Jumat, 31 Agustus 2012

Hikmah Penciptaan Manusia


بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Al Ustadz Abu Umar Abdul Aziz

Sesungguhnya Allah tidak menciptakan makhluk dengan sia-sia, akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan mereka untuk suatu hikmah yang agung, di mana dibalik keberadaan itu semua terkandung rahasia-rahasia kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Maka apakah kamu mengira ,bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), Dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? “ ( Al Mu’minun : 115 )

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan tentang maksud penciptaan jin dan manusia, bahwa mereka adalah makhluk yang diberi tugas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat Adz Dzariyat :

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahku.” ( Adz Dzariyat: 56 )

Ayat ini menuntun kita kepada hakekat yang lebih pasti, yaitu hakekat yang menjadikan landasan kehidupan. Demikian itu karena adanya tujuan yang tertentu dari keberadaan manusia dan jin, yaitu untuk merealisasikan suatu peran yang luhur, barang siapa memenuhinya berarti ia telah merealisasikan tujuan keberadaannya, dan barang siapa tidak memenuhinya, maka kehidupannya menjadi hampa dari tujuan tersebut dan hampa dari maknanya yang utama. Maksud yang telah ditentukan itu adalah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, yaitu sebagaimana yang telah di syariatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyembah-Nya, dan tidaklah akan lurus kehidupan seorang hamba kecuali menjalankan peran ini dan dalam rangka merealisasikan tujuan ini.

Kebahagiaan hakiki di dunia maupun di akherat tergantung pada terealisasinya tujuan ini, dengan menempuh tuntunan Allah subhanahu wa ta’ala, baik berupa keyakinan maupun perbuatan, di samping mengendalikan nafsu dan menundukannya untuk tetap teguh menempuh tuntunan ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al Baqarah : 38)

Perintah untuk mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dan beribadah kepada-Nya tidak dikhususkan kepada suatu umat tertentu saja, karena tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para Rasul-Nya kepada manusia melainkan untuk menyeru mereka kepada pengesaan Allah subhanahu wa ta’ala dan beribadah kepada-Nya serta meninggalkan setiap yang disembah selain dari pada Allah subhanahu wa ta’ala. Bentuk-bentuk ibadah pada umat-umat terdahulu sesuai dengan masa dan kondisinya, namun ketika Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepadanya bentuk ibadah yang sempurna.

Adapun definisi ibadah, sebagaiman diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala adalah :

اسم جامع لكل ما يحبه الله و يرضاه من الأقوال و الأعمال الباطنة و الظاهرة

“Sebutan yang mencakup setiap apa yang apa yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala dan diridhai-Nya yang berupa perkataan dan perbuatan baik yang lahir maupun yang batin.”

Untuk merealisasikan makna ini,maka manusia harus menyembah Alloh berdasarkan tuntunan yang telah disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala dan dengan cara yang diridhai-Nya dengan tunduk dan patuh, peribadatan tersebut bukan rekaan manusia yang berdasarkan pada kecenderungan dan praduganya.

Pedoman itu semua adalah, hendaknya di dalam jiwa terdapat perasaan tentang makna peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, dan hendaknya seorang hamba menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan setiap gerak geriknya di dalam jiwa dan raganya, bahkan demikian seharusnya di dalam kehidupan ini, dan hendaknya pula berlepas diri dari setiap makna yang menyelisihi dari makna ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Pengertian ibadah mencakup setiap lapangan kehidupan. Diwajibkan atas setiap hamba untuk tidak berpaling dari ketaatan pada penciptanya dalam segala sesuatu yang di perbuatnya sepanjang hidupnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada nabi-Nya Muhammadshalallahu ‘alaihi wa sallam, dengan perintah yang mutlak untuk beribadah kepada-Nya setiap waktu, sebagaimana firman-Nya :

“Dan sembahlah Robmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al-Hijr: 99)

Islam telah menetapkan berbagai ibadah dan syi’ar yang membedakan umatnya dari umat lainnya, Islam telah menetapkan batasan-batasan, waktu, kadar dan ukuran serta tata caranya. Islam telah mewajibkan kepada manusia untuk melaksanakan ibadah-ibadah tersebut ketika terpenuhi syarat-syaratnya, artinya seseorang tidak boleh meninggalkannya atau menangguhkannya bila telah diwajibkan baginya suatu kewajiban.

Ibadah-ibadah itu berupa perealisasian perbuatan yang diyakini di dalam jiwanya sebagai bentuk ungkapan pengesaan Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu yang dijabarkan dengan rukun-rukun amaliah Islam dan kaidah-kaidah dasarnya.

Melaksanakan syiar-syiar Islam yang berupa sholat,puasa, zakat, haji harus sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu sesuai tuntunan penugasan (“lakukan” dan “ jangan lakukan”). Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan tuntunan ini dalam kitab-Nya yang mulia

“(dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.(An-Nahl: 89)

Dalam ayat lain disebutkan:

“Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al-An’am: 38)

Allah subhanahu wa ta’ala juga telah mengutus Rosul-Nya untuk menjelaskan ayat-ayat tersebut, termasuk hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,”(An-Nahl: 44).

Penjelasan yang dilakukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencakup penjelasan lafadz dan maknanya. Setelah adanya penjelasan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ini manusia bisa menyembah Rabb mereka berdasarkan ilmu yang benar, dan dengan demikian terputuslah alasan orang-orang yang mengagungkan selain Allah subhanahu wa ta’ala atau mereka yang menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara yang yang tidak diperintahkan, yaitu mereka memasukkan bid’ah dan kesesatan ke dalam ibadahnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

(mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An Nisa : 165)

Jika seorang muslim memerlukan makan dan minum untuk menopang tulang punggungnya dan menguatkan tubuhnya, maka ia pun memerlukan sesuatu untuk dikonsumsi oleh jiwanya yaitu berupa pengenalan terhadap aqidah yang benar dan rahasia-rahasia ibadah, termasuk waktu-waktunya, kadar dan ukurannya serta tatacaranya, dan semuanya itu harus berdasarkan dalil yang shahih dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Dengan demikian dahaganya akan sirna, hatinya pun menjadi tenang dan jiwanya akan teguh dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan cara yang telah ditentukan.

Sesungguhnya risalah Allah subhanahu wa ta’ala telah diberlakukan, melalui para RasulNya dan telah diwariskan kepada para ulama’ umat ini dan telah menjadi milik kaum mukminin, hingga dibangkitkannya manusia guna menghadap Allah subhanahu wa ta’ala Tuhan semesta alam.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan para ulama sebagai sumber yang mengarahkan manusia, simbol petunjuk dan tuntunan. Mereka laksana pohon berbuah yang membutuhkan orang yang mau mengulurkan tangannya untuk memetik panennya, dan laksana bunga merekah yang membutuhkan orang hendak memanfaatkan keindahan dan aromanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui” (Al-Anbiya’: 7)

http://misykatulatsar.wordpress.com/2012/02/18/hikmah-penciptaan-manusia/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar