Selasa, 04 September 2012

Syariat Dan Besarnya Pengaruh Wanita Terhadap Umat


Oleh : Ustadzah Ummu Syuhada’ A-Khonsa’ Bintu Sholeh Suaidi Salatiga
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
 
Sudah lama sebenarnya penulis mendengar dan mendapati adanya komentar-komentar miring terhadap jilbab dan wanita yang mengenakan jilbab (kerudung), namun karena keterbatasan ilmulah yang menghalangi penulis untuk sedikit banyak memberikan arahan dan penjelasan serta bantahan terhadap hal itu, namun setelah penulis renungkan maka tak ada rotan akarpun berguna, maka penulis beranikan diri untuk melakukannya, dengan memohon bimbingan dan bantuan Allah subhanahu wa ta’ala penulis katakan bahwa siapa yang menganggap jilbab yang dikenakan wanita akan menghalanginya berkiprah dalam masyarakat selaras dengan ketentuan-ketentuan syariat. Ia telah salah besar. Pada dasarnya musuh-musuh wanita menyimpan kepentingan-kepentingan yang tidak baik di balik kiprah wanita dalam masyarakat tanpa mematuhi aturan-aturan syariat, seperti wanita-wanita yang bekeliaran bebas di luar, dan memamerkan perhiasan dan auratnya, membaur dengan laki-laki yang bukan mahromnya, dan melampaui batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Pengertian Ushul Fiqh


Bismillaahirrohmanirrohiim.

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).”
~HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).~
Keberhasilan seorang muslim adalah diberhasilkannya ia oleh ALLOH Ta'ala untuk memahami agama.
Ilmu ushul fiqh adalah salah satu ilmu terpenting di dalam mempelajari ilmu agama.
Ushul fiqh didefiniskan dengan 2 pengertian

Keutamaan Surat AL Fathihah


Oleh : Ust. Ari Wahyudi
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Dalam bagian ini, akan diterangkan mengenai keutamaan surat al-Fatihah:
- Surat paling agung
- Rukun dalam sholat
- Bacaan untuk meruqyah
- Induk ayat-ayat al-Qur’an
- Rahasia ajaran al-Qur’an
[1] Surat Paling Agung
Dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata kepadaku, “Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung di dalam al-Qur’an, sebelum kamu keluar masjid?”. Lalu beliau menggandeng tanganku, ketika kami hendak keluar aku berkata, “Wahai Rasulullah! Tadi anda berkata: Aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam al-Qur’an?”. Beliau pun bersabda, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (surat al-Fatihah), itulah tujuh ayat yang diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani) dan bacaan yang agung (al-Qur’an al-’Azhim) yang diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5006])
Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan di dalam Taurat, Injil, maupun al-Qur’an, sesuatu yang menyamai Ummul Kitab; yaitu as-Sab’u al-Matsani.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Kitab ash-Sholah [501] sanadnya sahih)

Muqadimah Tafsir (4)

Oleh : Ust. Ari Wahyudi
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim


Dalam bagian ini, akan diterangkan mengenai:
  • Kewajiban mengikuti manhaj para sahabat
  • Cara salafus shalih mempelajari al-Qur’an dan as-Sunnah
  • Ahli tafsir diantara para sahabat dan tabi’in
  • Salafus shalih adalah imam dalam ilmu dan amal
  • Ilmu-ilmu yang menopang ilmu tafsir
[1] Kewajiban Mengikuti Manhaj Sahabat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya…” (QS. At-Taubah: 100)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan menelantarkan dia dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami akan memasukkan dia ke dalam Jahannam. Sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)
Allah ta’ala berfirman mengenai para Sahabat dalam ayat-Nya (yang artinya), “Sungguh, Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman yaitu ketika mereka bersumpah setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon itu.” (QS. al-Fath: 18). Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam tafsirnya [7/262] bahwa jumlah para sahabat yang ikut serta dalam sumpah setia/bai’at di bawah pohon itu -yang dikenal dengan Bai’atur Ridhwan- adalah 1400 orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidak akan masuk neraka seorang pun di antara orang-orang [para sahabat] yang ikut berbai’at di bawah pohon itu.” (HR. Muslim) (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 469)

Minggu, 02 September 2012

Kewajiban Mengikuti Al Quran dan As Sunnah Berdasarkan Pemahaman Salafus Shalih


Oleh: Syaikh Abdul Malik bin Ahmad bin Al-Mubarak Ramadhani Al-Jazairi
Bismillaahir Rohmanir Rohiim
 
Sesungguhnya jalan yang sama sekali tidak pernah diperselisihkan oleh kaum muslimin baik di masa lampau maupun saat ini adalah jalan al-Kitab dan as-Sunnah, jalan yang senantiasa diridhai Allah Ta’ala. Pada jalan itulah mereka datang dan pada jalan itu pula mereka muncul. Meskipun mereka berselisih dalam cara-cara pengambilan dalil dari kedua sumber tersebut.
Kesepakatan mereka itu disebabkan Allah telah menjamin kelurusan bagi pengikut al-Kitab, sebagaimana yang Dia firmankan lewat lisan bangsa Jin yang beriman.
قَالُوا يَاقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِّمَابَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
Hai kaum kami, sesungguhnya kami tekah mendengarkan Kitab (al-qur’an) yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (Al–Ahqaf : 30)

Kaidah Penetapan Nama dan Sifat Allah Ta’ala


Secara umum, manhaj ahlussunnah dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah: Menetapkan nama dan sifat bagi Allah dengan nama dan sifat yang Dia sifatkan diri-Nya dengannya dan dengan apa yang para rasul-Nya sifatkan Dia dengannya, di atas dua kaidah ‘menetapkan tanpa menyerupakannya dengan makhluk’ dan ‘menyucikan sifat Allah dari penyerupaan dengan makhluk akan tetapi tidak sampai menolak sifat tersebut’. Allah Ta’ala telah menggabungkan kedua kaidah ini dalam firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dia lah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya,”adalah penafian sekutu bagi Allah dalam sifat-sifatNya yang sempurna, yang mana ini membantah metode para pelaku tamtsil (yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk). Sementara firman-Nya, “Dan Dia lah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,”adalah penetapan nama-nama dan sifat-sifat sempurna bagi-Nya, yang juga merupakan bantahan kepada para pelaku takwil (memalingkan makna sifat Allah dari makna sebenarnya) dan ta’thil (menolak sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Kemudian, kaidah menyeluruh yang berlaku pada seluruh permasalahan dalam bab (asma` wa ash-shifat) ini adalah: Menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan diri-Nya dengannya atau dengan apa yang Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- sifatkan dan dengan apa yang (para sahabat) terdahulu lagi pertama sifatkan Allah dengannya, dan tidak mendahului Al-Qur`an dan As-Sunnah (dalam penetapannya).” (An-Nafahat Al-Miskiah ala Al-Fatwa Al-Hamawiah hal. 48-49)

Perbedaan Kata Ilaah (إله ) dan Rabb ( ربّ ) Secara Bahasa


Makna secara bahasa :
إله berasal dari kata أَلَه يَأْلَهُ بالفتح فيهما إِلاَهَةً أي عَبَد
yakni alaha ya’lahu ilaahatan bermakna ‘abada (menyembah)
إلاَه على فِعَال بمعنى مفعول لأنه مَألُوه أي مَعْبُود
Ilaah di atas wazan fi’aal bermakna maf’uul karena dia ma’luuh yakni ma’buud (yang disembah) [Mukhtar ash-Shihah 1/13 (MS)]
Sehingga makna Ilaah adalah Ma’buud (Yang disembah atau Sesembahan)
الإلَهُ الله عز وجل وكل ما اتخذ من دونه معبوداً إلَهٌ عند متخذه
al-Ilaah adalah ALLAH ‘azza wa jalla dan setiap yang dijadikan sesembahan selain ALLAH disebut ilaah oleh yang menjadikannya [Lisaan al-‘Arab 13/467 (MS)]
Sehingga orang-orang musyrik menamai sesembahan mereka selain ALLAH sebagai ilaah. Bentuk jamak (plural) dari ilaah adalah aalihah.
ربّ berasal dari kata
رَبُّ كل شيء مالِكُه
Rabb segala sesuatu adalah Maalik(penguasa atau pemilik)nya. [Mukhtar ash-Shihah 1/111 (MS)]
Hal semakna juga disebutkan oleh Ibnu Mandzur [Lisaan al-‘Arab 1/399 (MS)]
Sehingga makna Rabb adalah Maalik yakni penguasa atau pemilik.
*MS = al-Maktabah asy-Syaamilah

http://www.facebook.com/notes/noor-akhmad-setiawan/perbedaan-kata-ilaah-%D8%A5%D9%84%D9%87-dan-rabb-%D8%B1%D8%A8%D9%91-secara-bahasa/69632991040