Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 September 2012

Keutamaan Surat AL Fathihah


Oleh : Ust. Ari Wahyudi
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Dalam bagian ini, akan diterangkan mengenai keutamaan surat al-Fatihah:
- Surat paling agung
- Rukun dalam sholat
- Bacaan untuk meruqyah
- Induk ayat-ayat al-Qur’an
- Rahasia ajaran al-Qur’an
[1] Surat Paling Agung
Dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata kepadaku, “Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung di dalam al-Qur’an, sebelum kamu keluar masjid?”. Lalu beliau menggandeng tanganku, ketika kami hendak keluar aku berkata, “Wahai Rasulullah! Tadi anda berkata: Aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam al-Qur’an?”. Beliau pun bersabda, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (surat al-Fatihah), itulah tujuh ayat yang diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani) dan bacaan yang agung (al-Qur’an al-’Azhim) yang diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an [5006])
Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan di dalam Taurat, Injil, maupun al-Qur’an, sesuatu yang menyamai Ummul Kitab; yaitu as-Sab’u al-Matsani.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Kitab ash-Sholah [501] sanadnya sahih)

Muqadimah Tafsir (4)

Oleh : Ust. Ari Wahyudi
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim


Dalam bagian ini, akan diterangkan mengenai:
  • Kewajiban mengikuti manhaj para sahabat
  • Cara salafus shalih mempelajari al-Qur’an dan as-Sunnah
  • Ahli tafsir diantara para sahabat dan tabi’in
  • Salafus shalih adalah imam dalam ilmu dan amal
  • Ilmu-ilmu yang menopang ilmu tafsir
[1] Kewajiban Mengikuti Manhaj Sahabat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya…” (QS. At-Taubah: 100)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan menelantarkan dia dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami akan memasukkan dia ke dalam Jahannam. Sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)
Allah ta’ala berfirman mengenai para Sahabat dalam ayat-Nya (yang artinya), “Sungguh, Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman yaitu ketika mereka bersumpah setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon itu.” (QS. al-Fath: 18). Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam tafsirnya [7/262] bahwa jumlah para sahabat yang ikut serta dalam sumpah setia/bai’at di bawah pohon itu -yang dikenal dengan Bai’atur Ridhwan- adalah 1400 orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidak akan masuk neraka seorang pun di antara orang-orang [para sahabat] yang ikut berbai’at di bawah pohon itu.” (HR. Muslim) (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 469)

Jumat, 31 Agustus 2012

Muqadimah Tafsir (3)

Oleh : Ust. Ari Wahyudi
Bismillahir Rohmaanir Rohiim

Mukadimah Ketiga
Dalam bagian ini, akan diterangkan mengenai:
  • Rujukan dalam menafsirkan al-Qur’an
  • Penunjukan makna dari suatu lafal/ungkapan
  • Metode pengambilan tafsir
  • Hukum menafsirkan al-Qur’an semata-mata dengan logika
  • Haruskah menguji hadits dengan al-Qur’an?
[1] Rujukan Dalam Menafsirkan al-Qur’an
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa penafsiran al-Qur’an dapat diperoleh dengan bersandar kepada hal-hal berikut:

Muqadimah Tafsir (2)

Oleh : Ust. Ari Wahyudi
Bismillaahir Rohmanir Rohiim

Mukadimah Kedua
Dalam bagian ini, akan diterangkan mengenai:
  • Kaitan ilmu tafsir dengan ilmu hadits dan ilmu fikih
  • Pengertian istilah hadits
  • Pengertian istilah fikih
  • Kaitan ilmu tafsir dengan ilmu tauhid
  • Kaitan surat al-Fatihah dengan ilmu tauhid
[1] Kaitan Antara Tafsir, Hadits, dan Fikih
Sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, bahwa poros ilmu agama adalah pada ketiga ilmu ini, yaitu: tafsir, hadits, dan fikih. Dan sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para ulama juga bahwasanya hakikat ilmu tafsir adalah penjelasan terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur'an. Dengan memadukan kedua pengertian ini dapatlah kita simpulkan bahwa sesungguhnya keberadaan ilmu hadits dan fikih juga memiliki fungsi yang sama, yaitu menjelaskan kandungan al-Qur'an. Dengan kata lain, pada dasarnya ilmu hadits dan fikih adalah bagian tak terpisahkan dari ilmu tafsir. Sehingga orang yang mempelajari hadits dan fikih pun pada hakikatnya sedang mempelajari tafsir.

Muqadimah Tafsir (1)

Oleh : Ust. Ari Wahyudi
Bismillaahir Rohmanir Rohiim

Mukadimah Pertama
Di dalam bagian ini, akan diterangkan mengenai:
- Makna istilah tafsir
- Penggunaan kata ta’wil dengan makna tafsir
- Tujuan mempelajari tafsir
- Kedudukan ilmu tafsir
- Dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu tafsir
[1] Makna Istilah Tafsir
Secara bahasa tafsir bermakna menyingkap sesuatu yang tertutupi. Adapun menurut istilah para ulama, yang dimaksud dengan tafsir adalah menerangkan kandungan makna al-Qur’an al-Karim (lihatUshul fi at-Tafsir, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, hal. 25)
[2] Ta’wil Dengan Makna Tafsir
Dalam Al-Qur’an, kata ta’wil terkadang bermakna tafsir. Misalnya firman Allah ta’ala (yang artinya),“Beritahukanlah kepada kami tentang ta’wilnya. Sesungguhnya kami melihat engkau (wahai Yusuf) termasuk orang yang pandai (mena’birkan mimpi).” (QS. Yusuf: 36)
Demikian pula halnya dalam hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat mendoakan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, “Ya Allah, pahamkanlah dia dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ilmu ta’wil.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Wudhu’, hadits no. 143, akan tetapi tambahan ‘ajarkanlah kepadanya ilmu ta’wil’ tidak terdapat dalam Shahihain, lihat Fath al-Bari [1/207])