Tampilkan postingan dengan label Iman Terhadap Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman Terhadap Allah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2012

Nama Rabbku yang Ternoda


الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستهديه ونستغفره، ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه
وسلم تسليما كثير

Segala puji bagi Allah dan sepantaslah pujian agung hanya tercurah untuk-Nya semata. Allah memiliki nama-nama yang mulia nan agung. Dia memilih nama-nama tersebut untuk menjadi nama-Nya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.

Ahlussunnah menetapkan nama-nama Allah berdasarkan nama-nama yang memang Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Tidak ada jalan bagi akal manusia untuk membuat-buat nama ini kemudian menyematkannya kepada Allah, apalagi berdoa dengan nama-nama tersebut.

Sayangnya, di beberapa (atau banyak) daerah di tanah air kita ini, terdapat sebutan (nama) bagi Allah yang tidak ditentukan oleh wahyu. Diantara nama-nama ‘ilegal’ tersebut adalah Latala (Sumbawa), Nene’ Kaji (Lombok), Rumatala (Bima/Dompu), Pengeran (Malang), Nan Kuaso/Tanallah (Padang), Pengiran (Madura), Kayhangan (Suku Buol), Gusti Allah (Jateng) dan lain sebagainya. Penulis sendiri tidak tahu dari mana penamaan ini.

Sabtu, 08 September 2012

Tauhid (Meng-Esa-kan Allah)

Oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Istilah tauhid memang telah menjadi istilah yang sangat populer di tengah masyarakat muslim. Namun tak sedikit yang memahaminya dengan pemahaman yang salah.
Makna tauhid yang sebenarnya adalah mengesakan Allah pada sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya baik Rububiyah, Uluhiyah, atau Asma serta Sifat-sifat-Nya.

Rububiyah artinya penciptaan alam, kepemilikan serta pengaturannya. Uluhiyah artinya ibadah, sementara Asma dan Sifat artinya nama-nama Allah I serta sifat-sifat-Nya yang sangat baik dan agung sebagaimana yang Allah I tetapkan dalam kitab-Nya atau yang Rasul-Nya tetapkan dalam haditsnya (lihat Al-Qaulul Mufid 1/hal 9,14,16 oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Inilah tauhid hakiki yang dibawa oleh para Rasul Allah . Namun banyak orang yang menyelewengkan dari makna yang hakiki ini, sebagai contoh:

Minggu, 02 September 2012

Kaidah Penetapan Nama dan Sifat Allah Ta’ala


Secara umum, manhaj ahlussunnah dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah: Menetapkan nama dan sifat bagi Allah dengan nama dan sifat yang Dia sifatkan diri-Nya dengannya dan dengan apa yang para rasul-Nya sifatkan Dia dengannya, di atas dua kaidah ‘menetapkan tanpa menyerupakannya dengan makhluk’ dan ‘menyucikan sifat Allah dari penyerupaan dengan makhluk akan tetapi tidak sampai menolak sifat tersebut’. Allah Ta’ala telah menggabungkan kedua kaidah ini dalam firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dia lah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya,”adalah penafian sekutu bagi Allah dalam sifat-sifatNya yang sempurna, yang mana ini membantah metode para pelaku tamtsil (yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk). Sementara firman-Nya, “Dan Dia lah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,”adalah penetapan nama-nama dan sifat-sifat sempurna bagi-Nya, yang juga merupakan bantahan kepada para pelaku takwil (memalingkan makna sifat Allah dari makna sebenarnya) dan ta’thil (menolak sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Kemudian, kaidah menyeluruh yang berlaku pada seluruh permasalahan dalam bab (asma` wa ash-shifat) ini adalah: Menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan diri-Nya dengannya atau dengan apa yang Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- sifatkan dan dengan apa yang (para sahabat) terdahulu lagi pertama sifatkan Allah dengannya, dan tidak mendahului Al-Qur`an dan As-Sunnah (dalam penetapannya).” (An-Nafahat Al-Miskiah ala Al-Fatwa Al-Hamawiah hal. 48-49)