Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2012

Khilafah, Imamah dan Pemberontakan

Oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

‘Arfajah Al-Asyja‘i  berkata: Aku mendengar Rasulullah  bersabda:
“Siapa yang mendatangi kalian dalam keadaan kalian telah berkumpul/bersatu dalam satu kepemimpinan, kemudian dia ingin memecahkan persatuan kalian atau ingin memecah belah jamaah kalian, maka perangilah/bunuhlah orang tersebut.”
Dalam lafadz lain:
“Sungguh akan terjadi fitnah dan perkara-perkara baru. Maka barangsiapa yang ingin memecah-belah urusan umat ini padahal umat ini dalam keadaan telah berkumpul/bersatu dalam satu kepemimpinan, maka penggallah orang tersebut, siapa pun dia.”

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Imarah, Bab Hukmu Man Farraqa Amral Muslimin wa Huwa Mujtama’ (Hukum orang yang memecah-belah urusan muslimin dalam keadaan mereka telah berkumpul/bersatu pada perkara tersebut), no. 1852. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 4/261, 4/341, 5/23; An-Nasa`i dalam Sunan-nya no. 4020, 4021, 4022 dan Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 4762.
Dalam riwayat An-Nasa`i (no. 4020) ada tambahan:
“Karena sesungguhnya tangan Allah di atas tangan jamaah dan sungguh setan berlari bersama orang yang berpisah dari jamaah.”

Senin, 08 Oktober 2012

Tiga Faedah Besar Dari Muqadimah Shahih Muslim Terkait Dengan Ilmu Hadits



Diantara perkara yang penting didalam agama Islam dan tidak ada didalam agama lain adalah terdapatnya sanad didalam hadits Nabi shalallahu alahi wa sallam, tafsir, sejarah Islam dan yang selainnya, untuk membedakan antara kabar yang benar dengan kabar yang dusta.

Awal sekali yang memberikan perhatian kepada sanad hadits dalam makna musthahalah nya adalah Imam Muhammad bin Sirrin rahimahullah. ( wafat tahun 110 H ), telah berkata Imam Muslim didalam muqadimmah kitab shahihnya menukil ucapan Ibnu Sirrin :
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنْ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتْ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ
" Kami tidak bertanya masalah sanad, akan tetapi ketika telah terjadi fitnah maka kami berkata : " Tunjukkan kepada kami rijal ( pembawa sanad - pent ) kalian." Maka dilihat apabila rijal tersebut dari ahlussunnah maka diambil haditsnya, apabila rijal tersebut dari ahlul bid'ah maka tidak diambil haditsnya."


Imam Ibnu Sirrin juga berkata :
 إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
" Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaknya kalian memperhatikan dari mana kalian mengambil ilmu agama kalian."

Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
وابن سيرين - رضي الله عنه - هو أول من انتقد الرجال وميز الثقات من غيرهم، وقد روى عنه من غير وجه أنه قال:" إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم " وفي رواية عنه أنه قال:" إن هذا الحديث دين فلينظر الرجل عمن يأخذ دينه ".
" Dan Ibnu Sirrin radhiallahu anhu : adalah yang pertama mengkritik rijal dan membedakan antara yang tsiqah dengan yang selainnya, dan diriwayatkan darinya beliau berkata : " Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaknya kalian memperhatikan dari mana kalian mengambil ilmu agama kalian." dan dalam riwayat yang lain beliau berkata : " Sesungguhnya hadits ini adalah agama, maka hendaklah kalian memperhatikan rijal yang mana kalian ambil ilmu agama ini darinya."