Tampilkan postingan dengan label Metode Ber-Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Ber-Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2012

Bahaya Istihza' (Mencemooh Agama)




Oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari
Diantara sifat orang beriman adalah mengagungkan Allah dan mengagungkan apa-apa yang diagungkan oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. [Al Hajj:32]
Namun di zaman ini, banyak orang meremehkan, merendahkan, dan memperolok-olok sesuatu yang berkaitan dengan agama. Hal ini merupakan perkara yang sangat berbahaya. Maka sepantasnya seseorang mengetahui bahaya istihza’ terhadap agama. 
Istihza’, artinya: mengejek, memperolok-olok, atau mencemooh. Istihza’ terhadap Allah, ayat-ayatNya, RasulNya, agamaNya, dan istihza’ kepada orang-orang yang beriman, merupakan perilaku orang kafir, dan termasuk perkara yang menyebabkan murtad jika dilakukan oleh orang Islam.

Rabu, 03 Oktober 2012

Kebodohan Dan Kezholiman Adalah Pangkal Segala Keburukan

Oleh: Ust. Sofyan Chalid


BismiLlah walhamduliLlah washsholatu wassalamu 'ala RasuliLlah.

Seorang sahabat yang mulia, seorang sahabat yang menghadapi banyak fitnah perselisihan di masanya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu berkata, "Andaikan orang yang tidak mengerti ilmu itu diam niscaya akan hilang perselisihan." [Jami' Bayanil 'Ilmi wa Fdhlih, 2/207]

Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata, "Sungguh telah berani berbicara tentang ilmu, orang-orang yang sebetulnya jika mereka diam dari sebagian ucapan mereka adalah lebih baik dan lebih selamat bagi mereka insya Allah." [Ar-Risalah, hal. 41]

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, "Tidak ada perusak ilmu dan ahlinya yang lebih berbahaya dari "Ad-Dukhala," para penyusup yang berani berbicara tentang ilmu padahal mereka bukan ahlinya. Mereka itu bodoh namun menganggap diri mereka berilmu, mereka berbuat kerusakan namun menganggap diri mereka berbuat perbaikan." [Al-Akhlaq was Siyar, hal. 4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Perselisihan yang tercela di antara kedua belah pihak terkadang sebabnya adalah rusaknya niat, yaitu terdapat dalam diri-diri mereka kezaliman, hasad, keinginan untuk meninggikan diri di muka bumi dan yang semisalnya."

Sabtu, 22 September 2012

Tidak Setiap Orang Bisa Dijadikan Teman


Oleh: Al-Ustadz
Abdurrahman Mubarak


                                  Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Seorang teman sangat besar pengaruhnya bagi agama seseorang. Lihatlah Abu Thalib! Bagaimana dia tidak mau menerima dakwah Rasulullah  dan akhirnya mati di atas kesyirikan disebabkan teman yang pendampinginya yakni Abu Jahal yang terus memengaruhinya untuk tidak menerima dakwah Rasulullah 

Ketahuilah, semoga Allah  merahmati Anda, tidak semua orang bisa dijadikan sahabat. Karena Rasulullah berkata: “Seseorang ada di atas agama/ perangai temannya, maka hendaknya seseorang meneliti siapa yang dia jadikan temannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 127)
Beliau  juga berkata:
“Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali orang bertakwa.” (HR. Abu Dawud no. 4832 dan dihasankan Asy-Syaikh Albani dalam Shahih Jami’ no.7341) Beliau  juga berkata:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti penjual misk dan pandai besi. Adapun penjual misk, bisa jadi engkau diberi olehnya, membeli darinya, atau minimalnya engkau
mendapatkan bau wangi. Adapun pandai besi bisa jadi membakar pakaianmu atau engkau mencium bau tidak sedap darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628) 

Nikmat Persahabatan Karena Allah


Oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak 

                            Bismillaahir Rohmaanir Rohiim


Nikmat Allah  sangatlah banyak. Tak mungkin seorang pun bisa
menghitungnya. Allah  berfirman:
“Jika kalian mau menghitung nikmat Allah niscaya kalian tak akan bisa menghitungnya.” (Ibrahim: 34) Ibnul Qayyim  menjelaskan macam-macam nikmat Allah  kepada hamba-hamba-Nya:
- Nikmat yang telah didapat dan telah diketahui hamba-Nya
- Nikmat yang ditunggu-tunggu dan diharap-harap oleh hamba-Nya.
- Nikmat yang telah didapat hamba tapi dia tidak merasakannya. Jika Allah  akan menyempurnakannikmat-Nya kepada seorang hamba maka Allah  akan membimbing hamba ini untuk mengetahui nikmat yang telah didapatnya dan diberi taufiq untuk
mensyukurinya. (Al-Fawaid hal. 169)

Selasa, 11 September 2012

Agar Anak Tidak Menjadi TERORIS


Betapa hancur hati kedua orangtua, tatkala dikabarkan kepada mereka ternyata anaknya yang selama ini dikenal sebagai anak baik-baik dan pendiam, diciduk aparat Kepolisian karena terlibat jaringan terorisme.
...


Orangtua yang lain pun shock begitu mendengar anaknya tewas dalam aksi peledakan, Sementara itu, teman-temannya serasa tidak percaya mendengar berita bahwa anak yang selama ini mereka kenal sebagai anak baik, supel, dan ramah, ternyata terlibat aksi terorisme !!.

Demikianlah, betapa menyedihkan, Nyata jaringan terorisme telah berhasil menyeret anak-anak baik dari putra-putra kita dalam aksi biadab yang bertentangan dengan agama dan akal sehat tersebut.

Tentunya, kita bertanya-tanya bagaimana anak-anak kita bisa terseret jaringan terorisme ? Melalui pintu apa terorisme bisa masuk ke alam pikiran mereka sehingga mereka tertarik dan mau mengikutinya ?

Akar munculnya terorisme adalah dari paham sempalan Khawarij. Suatu paham

Sikap Syar'i Seorang Muslim Terhadap Pemerintahnya


Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pemimpin sangat penting dalam sebuah negara atau pemerintahan. Tidak bisa dibayangkan betapa besarnya mafsadah (kerusakan) yang akan muncul ketika sebuah negara tanpa seorang pemimpin. Karena tabiat dasar manusia adalah suka berbuat zhalim, dan di lain sisi suka menuntut keadilan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya manusia pasti selalu berbuat zhalim dan pengingkaran.” (Ibrahim: 34)
Apa yang akan terjadi seandainya manusia hidup di muka bumi tanpa seorang pemimpin yang mengatur berbagai urusan mereka? Sungguh keadaan mereka tak beda dengan binatang liar di tengah hutan belantara atau ikan-ikan di lautan. Hukum rimba pun akan menjadi simbol kehidupan mereka; yang kuat akan memangsa dan menindas yang lemah.

Minggu, 02 September 2012

Kewajiban Mengikuti Al Quran dan As Sunnah Berdasarkan Pemahaman Salafus Shalih


Oleh: Syaikh Abdul Malik bin Ahmad bin Al-Mubarak Ramadhani Al-Jazairi
Bismillaahir Rohmanir Rohiim
 
Sesungguhnya jalan yang sama sekali tidak pernah diperselisihkan oleh kaum muslimin baik di masa lampau maupun saat ini adalah jalan al-Kitab dan as-Sunnah, jalan yang senantiasa diridhai Allah Ta’ala. Pada jalan itulah mereka datang dan pada jalan itu pula mereka muncul. Meskipun mereka berselisih dalam cara-cara pengambilan dalil dari kedua sumber tersebut.
Kesepakatan mereka itu disebabkan Allah telah menjamin kelurusan bagi pengikut al-Kitab, sebagaimana yang Dia firmankan lewat lisan bangsa Jin yang beriman.
قَالُوا يَاقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِّمَابَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
Hai kaum kami, sesungguhnya kami tekah mendengarkan Kitab (al-qur’an) yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (Al–Ahqaf : 30)